Minggu, 20 Juli 2014

Menuju Kemenangan Islam

Menuju Kemenangan Islam

Islam merupakan agama yang sempurna. Semua hal di berbagai bidang kehidupan telah diatur jelas di dalam Islam. Ajaran Islam yang sempurna inilah yang menghantarkan muslim sebagai umat penganutnya menyandang predikat umat yang terbaik. Siapa yang memberikan predikat tersebut? Allah berfirman di dalam surat Al Imran ayat 110 :




Artinya : “Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Predikat umat terbaik ini langsung diberikan oleh Allah kepada umat Islam. Namun, satu hal penting yang perlu diingat bahwa yang menjadikan muslim kuat adalah Islam sehingga jika muslim benar-benar ber-Islam maka umat islam akan menjadi umat yang terbaik.
 Akan tetapi, keadaan muslim saat ini semakin jauh dari Islam. Islam dipisahkan dari bidang-bidang kehidupan seakan-akan Islam hanyalah mengatur tata cara ibadah kepada Allah saja. Padahal kesempurnaan ajaran Islam ini menjadi sebuah pedoman untuk tercapainya tata kehidupan yang sempurna karena Islam adalah solusi dari berbagai permasalahan yang ada saat ini. Kenyataan ini telah dikatakan oleh Baginda Rasulullah saw di dalam hadits :
 “Akan datang suatu zaman di mana tidak tersisa dari Islam, kecuali tinggal namanya saja, tidak tersisa dari Alquran kecuali tinggal tulisannya saja, masjid-masjid mereka megah dan semarak, tetapi jauh dari petunjuk Allah, ulama- ulama mereka menjadi manusia- manusia paling jahat yang hidup di bawah kolong langit, dari mulut mereka ke luar fitnah dan akan kembali kepada mereka.” (HR Baihaqi)
Berdasarkan hal tersebut, telah jelas bahwa diperlukan segologan manusia yang bergerak untuk memahamkan umat, berjuang di barisan penegakkan kembali syariat-syariat Islam, menjadikan Islam sebagai dasar aturan di setiap bidang kehidupan. Dengan demikian, predikat Khairu Ummat (Umat terbaik) dapat diraih dengan adanya umat yang benar-benar kuat keIslamannya.
Berjuang di jalan ini memang bukan perkara mudah. Butuh pengorbanan. Rasa sakit, lelah, perih, akan hadir di setiap langkah perjuangan ini. Akan tetapi, selalu ada Allah yang akan membuat rasa sakit, lelah, dan perih itu menjadi nikmat tiada tara. Kenikmatan yang tak pernah dapat terbayangkan rasanya. Rasa sakit itu semua akan tergantikan dengan tercapainya tujuan utama dakwah ini, yakni Kemenangan Islam.
Saat semangat meredup, rasa lelah begitu menyelimuti diri, sikap enggan berjuang menyusup ke dalam hati, ingatlah jika kita memutuskan untuk meninggalkan barisan perjuangan ini, pergi menjauh dari dakwah ini, Allah akan menggantikan dengan kaum yang lebih baik.
“... dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.”
(Q.S. Muhammad : 38)
Maka menjadikan Allah sebagai tujuan perjuangan ini adalah sebuah keharusan. Dengan tujuan yang kuat, sikap menyerah, mundur, dan berputus asa tidak akan hinggap  di dalam hati dan pikiran para pejuang dakwah. Sebab, semangat mencari ridlo-Nya telah mengalahkan setiap rasa sakit yang menimpa.
Medan dakwah yang kita hadapi saat ini menuntut kita untuk menjadi kader-kader dakwah yang berkualitas. Dakwah Kampus harus berisi kader-kader yang cerdas, kreatif, ikhlas berjuang, dan mempunyai semangat yang menggelora. Berkomitmen tinggi untuk setia pada barisan perjuangan ini. Kelak rintangan, tantangan, dan cobaan yang pasti menghadang di setiap kaki-kaki ini melangkah, tak akan dapat menggoyahkan keteguhannya untuk tetap berjuang. Kader seperti itulah yang dibutuhkan dalam upaya menggapai kemenangan ini. Ya, kemenangan Islam memang sebuah kepastian. Namun, pertanyaannya adalah
“Apakah kita menjadi bagian dari orang-orang yang memperjuangkan terwujudnya kemenangan itu?”

“Allah telah menetapkan : ‘Aku dan Rasul-Ku pasti menang.’ Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.”
(Al Mujadilah : 21)

-Suci Wulandari-


Atasi Krisis Negarawan Muda Indonesia!

Atasi Krisis Negarawan Muda Indonesia!

Apa yang terpintas dalam pikiran kita jika mendengar kata ‘Negarawan’? Seorang pemimpin atau seorang yang duduk di bangku pemerintahan? Ya, mungkin bisa disebut seperti itu. Akan tetapi, dalam pengertian yang lebih luas negarawan adalah seorang yang berperan dan berjasa dalam upaya membangun bangsa dan negaranya sebab orientasi seorang negarawan adalah bagaimana agar negaranya berkembang menjadi lebih maju dan bermatabat. Namun, esensi dari orientasi negarawan itu semakin hari kian memudar karena sebagian dari para politisi –yang menyebut diri sebagai negarawan- yang saat ini duduk di bangku pemerintahan, orientasi mereka telah bergeser tidak lagi untuk memajukan bangsa ini, melainkan untuk kepentingan diri sendiri. Faktanya, banyak kasus korupsi yang kian marak terjadi beberapa tahun belakangan ini. Belum lagi para politisi yang mementingkan kepentingan golongan sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak menguntungkan masyarakat. Padahal permasalaan-permasalahan bangsa masih banyak yang harus diselesaikan. Hal ini membuktikan bahwa saat ini Indonesia memang sedang mengalami krisis negarawan.
Indonesia menaruh harapan besar kepada mahasiswa untuk mengatasi krisis negarawan ini. Mahasiswa sebagai calon negarawan diharapkan mampu turut berkontribusi dalam upaya pembangunan bangsa. Namun, pembelajaran menuju negarawan yang baik bukanlah sesuatu yang instan. Mahasiswa harus terlebih dahulu melatih diri dengan ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan organisasi di kampus sebagai upaya pembelajaran awal untuk mengatasi permasalahan-permasalahan bangsa yang lebih besar. Hal ini dapat melatih mahasiswa untuk lebih berpikir kritis, berjangka panjang, dan berfokus pada kepentingan masyarakat. Dengan demikian, akan tercipta jiwa pejuang dalam diri mahasiswa serta memunculkan semangat yang menggelora untuk memberikan perubahan pada bangsa. Apabila pemikiran dan karakter yang kuat ini telah tertanam dalam diri mahasiswa, maka tentu peristiwa krisis negarawan ini dapat teratasi.
Keinginan untuk turut berkontribusi serta berperan menjadi negarawan yang kelak mengurusi negara ini adalah sebuah pilihan masing-masing mahasiswa. Namun, perlu ditekankan kembali bahwa masa depan bangsa ini bergantung pada mahasiswa (pemuda) sebagai calon cendekiawan bangsa. Sekarang sebagai mahasiswa, serulah pada diri sendiri dengan mengatakan bahwa
“Kami lah calon negarawan muda Indonesia yang akan mengantarkan Indonesia menuju negara yang sejahtera dan lebih bermartabat”.

Insya Allah.. Aamiin
-Suci Wulandari-


Minggu, 29 Juni 2014

Sekian Kilometer...

Sekian Kilometer...

Perjalanan hari ini, Ramadhan kali ini..
Ah sekian kilometer,
Roda sepedaku menjelajah
Mondar-mandir, sana-sini
Kemana?
                Panas matahari, dahaga dan lapar..
                Ah, tak seberapa
                Aku dan sepedaku tak pantas mengeluh
                Mereka yang telah lebih dulu bertempur pun
                Tak sedikitpun mengeluh
Ah, ini baru sekian kilometer
Perjalanan masih jauh, sangat jauh
Ujian di depan akan membutuhkan lebih banyak..
Pengorbanan, perjuangan, kesabaran, ketekunan
                Ah, sekian kilometer hari ini
                Sudahkah lurus niat karena-Nya?
                Sayang jika bukan untuk-Nya,
                Sia-sia perjalanan ini
                Percuma pengorbanan selama ini
Ah, sekian kilometer selanjutnya telah menunggu
Menanti ku lewati dengan sepedaku
Allah, luruskan niatku
Agar semua untuk-Mu selalu...


H1 Ramadhan
Ahad, 29 Juni 2014

Suci Wulandari

Minggu, 08 Juni 2014

Ya Allah, kami takut...

Ya Allah, kami takut...
Bagaimana jika ketika raga ini tak lagi bergerak, napas tak lagi berhembus, saat Engkau meminta kami kembali...
Masih ada janji yang belum kami tepati..
Masih ada amanah yang belum kami laksanakan..
Masih ada harapan dan cita yang belum kami dapatkan..
Masih ada kesalahan yang belum termaafkan..
Ya Allah, ampuni kami..
Kami tahu kematian tak akan menunggu kami siap, tetapi..
Jadikanlah kami hamba-Mu yang kembali pada-Mu dalam keadaan Islam, hamba-Mu yang kembali kepada-Mu dalam keadaan Husnul Khotimah.. Aamiin

Senin, 19 Mei 2014

Teleskop7 #1



Assalamu’alaikum teman teman :)
Aku ingin berbagi pengalaman nih.. Pengalaman yang sangat luar biasa dan aku sangat beruntung Allah memberikanku kesempatan untuk mengalaminya :) Aku ingin berbagi cerita tentang TELESKOP.. Apa itu Teleskop? Teleskop (The Engineering Leadership Workshop) adalah sebuah training leadership di fakultas teknik UGM. Teleskop merupakan agenda tahunan yang sudah berlangsung sejak tahun 2007. Training leadership ini juga merupakan follow up dari PPSMB Teknik yang telah kami laksanakan dulu ketika kami menjadi mahasiswa baru ^^ 

 Nah, para peserta dari Teleskop tahun ini adalah perwakilan dari BEM, BSO, KM/HM yang ada di fakultas teknik. Oya, selain perwakilan dari lembaga-lembaga tersebut juga ada peserta yang independen lho :3 Di Teleskop7 ini aku adalah perwakilan dari BSO Cendekia Teknika :)
Teleskop tahun ini berlangsung selama 2 hari, yakni tanggal 17-18 Mei. Pada tulisan ini aku akan menceritakan rangkaian acara Teleskop7 hari #1 J Hari pertama ini diawali dengan apel pagi. Apel ini merupakan acara pembukaan resmi Teleskop7. Seusai apel, dilanjutkan dengan sarapan bersama dengan kelompok dan pemandu masing-masing ^^ Oya! Perkenalkan kami dari kelompok 4 dengan ketua Retas, anggota Aulia, Icha, Arsyad, Wawan, Lutfi, Shaki, Dimas, dan aku :D serta pemandu kami Mas Irfan ^^




Acara selanjutnya adalah materi 1 tentang Public Speaking. Materi ini diisi oleh seorang luar biasa yakni Pak Fatan. Beliau adalah seorang inspirator sekaligus ustadz. Ketika beliau mengawali materinya beliau bertanya kepada kami, “Dari kata Public Speaking carilah sebuah kata yang mencirikan Public Speaking itu sendiri!” Beberapa diantara kami menjawab kata “Public” dan “Speak”. Namun, ternyata bukan kata itu yang dimaksud oleh Pak Fatan. Ternyata kata yang dimaksud adalah “Peak” (puncak). Maksudnya, dalam melakukan public speaking kita harus menampilkan yang terbaik ^^ Selanjutnya pak Fatan memberitahukan kami suatu fakta bahwa orang Amerika Serikat sangat takut dengan Public Speaking. Dan tahukah teman-teman mengapa mereka sangat takut dengan Public Speaking? Ternyata mereka takut karena mereka merasa tidak siap dan mereka takut “dinilai” oleh para pendengar ketika mereka berbicara. Jadi, memang untuk berbicara di depan publik (min. 2 orang) membutuhkan sebuah keberanian yang harus terus diasah. Pak Fatan juga menekankan kepada kami bahwa jika ingin menjadi The Great Public Speaker maka kita harus menjadi Good Listener. Tentu kita paham betul bukan bahwa seorang penulis hebat adalah seorang “pelahap buku”? :). Untuk menjadi The Great Public Speaker dibutuhkan bahan-bahan yang kuat dan terbaik. Sebab, bahan-bahan yang terbaik juga akan menghasilkan produk yang terbaik pula ^^ Mari kita belajar menjadi Great Public Speaker :)
Agenda selanjutnya adalah Forum Group Discussion. Pada FGD kali ini ada 4 tema yang diusung, yakni egoisme jurusan, idealisme, kedisiplinan, dan apatisme. Masing-masing group mempresentasikan hasil diskusi mereka tentang salah satu dari keempat tema tersebut. Dan berikut aku mencoba merangkum dari presentasi masing-masing tema :)
Pada tema Egoisme Jurusan yang menjadi pokok bahasan adalah kondisi fakultas teknik sendiri yang terdiri dari 8 jurusan, 10 program studi. Kedepalan jurusan tersebut memiliki keunikan masing-masing yang membedakannya dengan jurusan lain. Namun, keunikan tersebut seharusnya tidak memicu timbulnya chauvinisme jurusan. Justru berbagai keunikan tersebut kita jadikan alat pemersatu menuju “Teknik Satu”. ^^
Tema yang kedua adalah tema yang  sangat menarik, yaitu Idealisme. Mahasiswa memang cukup akrab dengan kata yang satu ini. Sebenarnya apa itu idealisme? Idealisme adalah sebuah keyakinan yang dipegang teguh akan suatu keadaan yang dianggap ideal. Biasanya di dalam pikiran mahasiswa telah tergambarkan kondisi-kondisi ideal yang seharusnya terjadi, baik di kampus, bangsa dan negara, serta hidup ini. Berbicara soal idealisme, bukanlah tentang “common enemy” melainkan “common goal” yakni kesamaan tujuan yang hendak dicapai menuju suatu kondisi ideal yang diharapkan. Idealisme adalah sesuatu yang mudah dibuat, namun sangat sulit untuk mempertahankannya. Terbesitlah sebuah pertanyaan, “Lalu bagaimanakah cara untuk mempertahankan idealisme ini?” Idealisme bukanlah suatu hal yang melekat karena status sebagai mahasiswa, melainkan sebuah view of life, sehingga idealisme ini tidak hanya tertanam dalam pikiran ketika kita menjadi mahasiswa, tetapi berlanjut, kontinu, dan konsisten.
Tema yang ketiga adalah Kedisiplinan. Berbicara disiplin adalah sesuatu yang cukup seru untuk dibicarakan apalagi sebagai mahasiswa yang kesibukannya tidak hanya kuliah, tetapi juga organisasi, penelitian, dan sebagainya. Terdapat dua hal yang sangat penting untuk dapat menjadi pribadi yang disiplin, yang pertama adalah komitmen. Untuk menjadi seorang yang disiplin, komitmen sangatlah dibutuhkan sebagai sesuatu yang selalu dipegang teguh, sebab ketika telah mempunyai komitmen yang kuat maka sesibuk apapun pasti tetap bisa menjadi mahasiswa yang disiplin. Kedua adalah terorganisir. Seorang mahasiswa yang cerdas mengatur waktunya, akan senang untuk mengorganisir jadwalnya menjadi teratur. Apa yang akan dilakukan hari ini, hari ini mempunyai janji dengan siapa, tugas apa yang dikumpulkan hari ini, dan lain sebagainya, semua telah tersusun rapih. Selanjutnya, mengenai ketidakdisiplinan dengan melanggar peraturan kita harus dapat memilih peraturan-peraturan mana yang sejalan dengan tujuan, sebab peraturan adalah sebuah instrumen untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa kita harus mengetahui apa maksud dari setiap peraturan yang dibuat, sesuai kah dengan tujuan kita?
Tema yang terakhir adalah apatisme. Di kampus terdapat beragam mahasiswa, termasuk mahasiswa apatis. Mahasiswa yang apatis dianggap sebagai mahasiswa yang tidak peduli, acuh terhadap berbagai hal yang terjadi di kampus atau bahkan di negara ini. Terdapat beberapa hal yang faktor yang menyebabkan mahasiswa apatis. [1] Faktor internal (diri sendiri/keluarga). [2] Akademik (study oriented). [3] Merasa canggung sebab telah di cap apatis. Poin yang ketiga merupakan masalah yang seharusnya bisa dihilangkan. Jika kita menemukan teman-teman kita yang memang tidak peduli (apatis) maka kita harus merangkulnya, mengajaknya perlahan untuk turut serta aktif, bukannya memberikannya cap sebagai “mahasiswa apatis” sehingga ketika ia ingin berkontribusi ia merasa minder karena cap/labelling yang telah diberikan kepadanya. Sebenarnya apatis timbul karena seorang tersebut telah terjebak di dalam zona nyaman, dan ia tidak mau keluar dari comfort zone tersebut. Orang yang seperti ini, butuh perhatian lebih dan tentunya kita harus peka dan perhatian terhadap teman-teman di sekitar kita. Satu hal yang juga penting terkait apatisme ini, ketika kita melihat teman kita tidak peduli dengan organisasi/ hal yang kita ikuti, maka kita tidak boleh langsung men-cap ia sebagai apatis karena bisa saja ia mempunyai kesibukan dalam hal lain. Ingat ketika kita memaksakan teman kita untuk mengikuti semua yang kita lakukan, maka boleh jadi kita yang egois? Hati-hati ^^
Materi ke-2 di hari pertama Teleskop7 ini adalah tentang Kepemimpinan. Pembicaranya adalah Luthfi Hamzah Husein. Beliau adalah Presiden Mahasiswa UGM tahun... Beliau melontarkan sebuah pertanyaan kepada kami, “Bagaimana leadership sebagai seorang mahasiswa yang menjadi faktor pembeda dengan leadership jaman SMA dulu?” Basis pembeda leadership mahasiswa yang pertama adalah Moralitas. Dalam kepemimpinan sebagai seorang mahasiswa moralitas adalah hal yang dijunjung tinggi. Kedua, intelektualitas. Artinya, setiap hal diidentifikasi dalam segi keilmuan. Beberapa hal lain yang harus selalu diingat terkait leadership sebagai mahasiswa adalah [1] Di pundak mahasiswa terdapat beban tak hanya tentang dirinya tetapi juga tentang bangsa dan negaranya. [2] Menyamakan visi dan bekerja keras untuk mencapainya dengan berbagai peran/keahlian yang dimiliki. Mas Luthfi juga menekankan bahwa setiap leader mempunyai keunikan masing-masing sehingga yang menjadi pokok perhatian adalah bukannya perbedaan strategi melainkan persamaan visi.
Seusai melaksanakan ibadah sholat Dzuhur, Mas Rizky, Ketua KMT UGM, menyampaikan tausyiah terkait organisasi. Beliau menjelaskan organisasi yang kuat dan yang bertahan lama adalah [1] Organisasi yang melakukan pergerakan (amal) tidak hanya berkata yang menjadi sebuah wacana belaka. [2] Mempunyai landasan gerak yang jelas. [3] Memiliki tata aturan yang rapih dan kokoh. [4] Memiliki kader-kader yang kuat yakni yang memiliki cinta dengan lembaganya.
Materi yang terakhir pada hari pertama ini bertema Inikah Jalanku? Teman-teman tahu siapa pembicara pada materi ini? Dua orang hebat. Sosok yang menjadi inspirasi bagiku, yakni Ahmad Ataka dan Yanuar Rizki Pahlevi. Siapa yang tidak mengenal mas Ataka? Presiden Cendekia Teknika 2012. Seorang yang mempunyai sederet prestasi dari SMA hingga menjadi mahasiswa, mulai dari olimpiade fisika, ketia tim roket UGM, serta karya-karya hebat yang lahir darinya. Siapa sangka, sosok hebat seperti Mas Ataka yang mempunyai segudang prestasi akademik itu ternyata juga mempunyai usaha sukses Kaos Pintar dan Atnic. Siapa pula yang tidak mengenal Mas Yanuar, seorang hebat Ketua BEM FT UGM tahun..., dan Presiden Mahasiswa UGM tahun 2013. Yang orasinya dapat membuat bergetar dan begitu mempengaruhi ribuan mahasiswa lainnya. Aku sangat mengucapkan terima kasih kepada panitia Teleskop7 yang telah mendatangkan orang-orang hebat untuk mengisi materi ^^
Begitu banyak pelajaran yang dapat diambil dari materi yang diberikan oelh sosok-sosok hebat ini. Pertama, kita harus memberikan kontribusi kepada bangsa ini sesuai dengan keahlian dan bidang masing-masing. Oleh karena itu, menemukan passion diri adalah hal yang sangat penting. Memang dalam menemukannya bukanlah sesuatu yang mudah, butuh perenungan dan penelusuran diri yang tak sebentar. Namun, passion ini harus segera kita tentukan sebab ini akan menentukan langkah kita selanjutnya. Mas Yanuar juge mengingatkan kita bahwa “Pemuda bukanlah seorang yang berkata ini bapak saya. Akan tetapi, seorang pemuda adalah seorang yang berkata inilah saya”. Artinya, kehebatan seorang pemuda bukanlah dilihat dari siapa orang tuanya, apa universitasnya, apa lembaganya, apa komunitasnya, tetapi kehebatan seorang pemuda dilihat dari siapa dirinya, ya siapa dirinya....
          Marilah mulai dari diri sendiri,
          Mulai dari hal yang kecil,
          Dan mulai dari sekarang....
          #Teleskop7
          Sekian teman-teman cerita pengalaman Teleskop7 hari pertama. Banyak pelajaran yang dapat dipetik pada hari ini. Semoga di dalam setiap jejak langkah kita meninggalkan manfaat dan kebaikan. Semoga Allah memudahkan :)
Wassalamu’alaikum ^^
17 Mei 2014
Suci Wulandari

Senin, 28 April 2014

UpGrading 2 Cendekia Teknika



Pada 26-27 April 2014, Cendekia Teknika UGM mengadakan UpGrading yang ke-2. Aku menjadi salah satu peserta dalam Upgrading kali ini. Aku merasa sangat beruntung sebab masih diberikan kesempatan oleh-Nya untuk ikut UG 2 CT. Banyak sekali hal-hal yang aku dapat dari acara yang berlangsung selama 2 hari itu.
Materi pertama yang diberikan adalah mengenai profesionalitas. Narasumber yang memberikan materi ini adalah sosok hebat bernama Randy Frans Fela Teknik Fisika 2010. Beliau memberikan gambaran kepada kami mengenai profesionalitas dalam organisasi. Terdapat tiga hal utama yang harus selalu diperhatikan dalam organisasi. Tiga hal tersebut adalah Loyal, Komitmen, dan Disiplin. Loyal memiliki hubungan dengan ruang lingkup lain selain ruang lingkup internal. Loyal berarti berusaha memberikan yang terbaik untuk suatu organisasi namun tetap berusaha agar mendapatkan sesuatu dari organisasi tersebut untuk mengembangkan kemampuan diri. Kedua adalah komitmen. Komitmen berkaitan dengan diri sendiri (ruang lingkup internal) sebab komitmen adalah suatu hal yang telah disepakati oleh diri untuk selalu dipertahankan dalam melakukan suatu hal, dalam kasus ini yakni terkait berorganisasi. Artinya, komitmen merupakan suatu yang harus selalu dipegang teguh. Kemudian yang ketiga adalah disiplin. Dalam berorganisasi disiplin merupakan suatu yang sangat penting. Tingkat kedisiplinan seseorang dapat menggambarkan kemampuan orang tersebut dalam memanajemen waktunya. Sebab jika kita berkecimpung dalam dunia organisasi, kemampuan mengatur waktu dengan baik sangatlah diperlukan.
Mengenai profesionalitas, Mas randy menjelaskan bahwa profesional berkaitan dengan sikap selalu bertanggungjawab, mampu memisahkan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan umum, mampu mengoptimalkan perkerjaan, serta dilengkapi dengan kemampuan dalam memanajemen waktu dengan baik. Mas Randy juga menjelaskan perbedaan tentang kekeluargaan dengan profesionalitas. Beliau menjelaskan bahwa profesionalitas adalah sebuah sifat, sedangkan kekeluargaan adalah nuansa yang dibangun. Dan rasa kekeluargaan ini dapat dibangun di luar organisasi.
Oh ya, sebelum menutup materinya, mas Randy memberikan sebuah pertanyaan, yakni “Apa yang membedakan antara ilmu pengetahuan dengan iman?”. Jawabannya adalah iman adalah sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan sehingga apabila masih bertanya maka berarti belum beriman, sedangkan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang perlu dipertanyakan sehingga dalam menuntut ilmu kita wajib bertanya.
Materi kedua, diberikan oleh Aziz Teknik Kimia 2009 mengenai Engineering the Future. Pada materi ini, mas Aziz menjelaskan beberapa hal yang dibutuhkan agar dapat mencapai cita-cita dan impian kita. [1] Selalu berusaha menjadi yang terbaik. [2] Untuk meraih kesuksesan harus diawali dengan mempunyai mimpi yang besar. [3] Jadilah seorang yang spesialis bukan generalis. Artinya kita harus mampu memperdalam suatu ilmu tertentu hingga benar-benar menguasainya. [4] Selalu fokus terhadap tujuan awal.
Selain dua materi yang diberikan, kami juga melaksanakan Forum Group Discussion terkait dengan masalah-masalah yang  berada di desa tempat kami melaksanakan UG saat itu serta solusi dari masalah tersebut. Melalui FGD ini, kami dilatih untuk peka terhadap masalah-masalah yang ada serta mampu berpikir dan bekerjasama untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. Diskusi yang berlangsung cukup menarik sebab di akhir diskusi kami menggabungkan ide-ide kami untuk diterapkan di desa ini, dimana 15 tahun mendatang diharapkan kami mampu mewujudkan ide-ide tersebut.
Di hari kedua, kami melaksanakan outbound. Outbound yang dilaksanakan pagi ini berupa permainan atau tantangan yang harus kami lewati. Permaianan-permainan ini dibagi dalam 4 pos. Pos pertama, kami bermain games “Pura-Pura bisu”, yakni kami diminta menebak sepuluh kata yang diperagakan oleh teman kita secara bergantian kemudian menggabungkannya menjadi satu buah kalimat. Lucunya adalah kalimat yang dibuat oleh panitia adalah kalimat yang terdiri dari kata-kata yang sulit diperagakan. Kata-kata tersebut seperti cendekia, teknika, berkarakter, berakhlak, mulia, cerdas. Tentu teman-teman bisa membayangkan bukan bagaimana kami berusaha keras untuk memperagakan kata-kata tersebut? Meskipun games ini tergolong sulit kami tetap bergembira..
Di pos kedua, kami memainkan sebuah permainan bernama Games Oman sebab orang yang mengusulkan games ini bernama Oman. Dalam permainan ini konsentrasi, pendengaran, dan kemampuan mengingat kami diuji. Pada games ini kami diminta mengikuti instruksi-instruksi yang diberikan panitia berupa gerakan maju, mundur, kanan dan kiri. Yang membuat games ini sulit adalah kata yang menginstruksikan keempat gerakan tersebut dalam setiap round berbeda sehingga kami dituntut untuk konsentrasi, mampu mengingat instruksi yang paling terbaru, serta menjaga kekompakkan dengan teman-teman sekelompok dalam melaksanakan instruksi-instruksi yang diberikan. Meskipun games ini cukup melelahkan kami juga tetap bergembira..
Pada games di pos 3, kami diminta untuk mengasumsikan diri kami sebagai tunanetra, tunarunga, atua tunawicara. Dalam setiap kelompok ditentukan satu orang yang menjadi tunanetra, satu orang untuk menjadi tunawicara, dan sisanya menjadi tunarungu. Dalam games ini, si tunanetra harus mampu menemukan suatu benda yang diletakkan panitia di suatu tempat, sedangkan tugas tunarungu adalah mengarahkan si tunanetra untuk dapat menemukan benda tersebut. Yang membuat seru adalah tunawicara dari masing-masing kelompok bertugas untuk membuat tunanetra kelompok lain tersesat. Pada games kali ini kami dilatih dalam hal kerjasama, kepercayaan, dan kemampuan untuk memimpin diri sendiri.
Pos keempat adalah pos terakhir pada rangkaian outbound ini. Di pos 4, setiap kelompok diberikan sebuah proyek yang harus dicarikan solusinya dengan cara menggambar 2 dimensi komponen-komponen yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Proyek-proyek tersebut terkait pengadaan air bersih, penyaluran listrik, serta sistem transportasi di desa tersebut. Selain tugas kelompok-kelompok ini, kami juga diberikan suatu proyek yang dikerjakan gabungan dari tiga kelompok mengenai pembangunan PLTA. Melalui games ini, kami dituntut untuk mampu berpikir kreatif, cepat, dan tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Kegiatan UpGrading ini telah memberikan banyak ilmu dan inspirasi untuk kami agar menjadi manusia yang lebih produktif dan mampu berkontribusi untuk Indonesia. Sebab kita telah sama-sama mengetahui bahwa masalah-masalah yang ada di bumi nusantara ini telah begitu banyak dan orang-orang yang berpotensi untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut adalah kita sebagai mahasiswa, para calon pemimpin dan cendekiawan bangsa. Melalui UpGrading ini lagi-lagi kami diingatkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat untuk manusia lain. Dan akhirnya UpGrading ini  ku tutup dengan sebuah doa :
“Ya Allah, jadikanlah kami sebaik-baiknya manusia, yakni dimanapun kami menapakkan langkah ini disanalah kami mampu meninggalkan jejak-jejak manfaat sehingga ketika Engkau meminta kami kembali tiadalah yang kami tinggalkan kecuali manfaat dan kebaikan. Aamiin”
Ahad, 27 April 2014
Suci Wulandari








 

"Saya tidak tahu apakah ini adalah langkah terakhir saya."