Jumat, 01 Agustus 2014

Ketika Matahari Terlihat Lebih Nyata #part2

Ketika Matahari Terlihat Lebih Nyata #part2


Ini adalah sebuah cerita,
ketika pepohonan terlihat lebih rindang dan hijau,
ketika udara pagi jauh lebih menyegarkan,
ketika malam hari begitu dingin menusuk kulit,
ketika cahaya mentari terasa begitu hangat,
ketika mendapati senyum ramah dari mereka,
ketika hidup penuh kesederhanaan menjadi santapan sehari-hari..

Kampung Mama dan Papa memang berbeda Propinsi. Mama di Cepu, Jawa Tengah, sedangkan Papa di Bojonegoro, Jawa Timur. Akan tetapi, Cepu berada di Jawa Tengah akhir, dan Bojonegoro terletak di Jawa Timur awal. Alhamdulillah, hal ini membuat kami dapat berkunjung ke kedua kampung tersebut dengan menempuh jarak yang tidak terlalu jauh.
Di Hari Idul Fitri, selesai Sholat Id, sungkeman, serta berkunjung ke rumah-rumah saudara di desa mama, kami bergegas menuju kampung papa di Bojonegoro. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu tempuh sekitar 60 menit dengan bus ditambah naik ojek sekitar 30 menit, tapi perjalanan ini cukup membuat kami lelah. Sebab kampung papa terletak di pedalaman hutan yang cukup jauh. Medan yang kami lalui juga tidak biasa. Jalan bergelombang, berkelok, naik, turun, wajib kami lewati untuk mencapai desa tersebut.
Dahulu, kampung papa ini dikelilingi pohon jati yang besar-besar. Akan tetapi, saat ini tak lagi seperti dulu, sebab pohon jati yang kami lihat sekarang berusia muda dengan diameter rata-rata batang tak lebih dari 10 cm. Entah siapa yang membabat habis hutan jati itu. Ya meskipun begitu kami patut bersyukur karena masih terdapat pepohonan meski tak serindang dulu. Kampung papa belum termasuk desa yang maju, sebab listrik belum dimiliki secara mandiri oleh desa ini. Listrik untuk memenuhi kebutuhan desa ini berasal dari desa sebelah, alias masih nyalur. Akibatnya, penggunaan listrik masih sangat terbatas, sekedar mencukupi untuk menghidupi beberapa lampu saat malam tiba atau sekedar menyetel televisi 14 inch di siang hari –jangan harap dapat menyetel televisi di malam hari karena listrik digunakan untuk menyalakan lampu- kulkas, rice cooker, dan alat-alat elektronik lainnya mereka tak punya sebab listriknya pun tidak akan cukup untuk membuatnya berfungsi. Ah, mungkin kesederhanaan ini yang membuat mereka begitu ramah dan sangat peduli satu sama lain..
Sekitar pukul empat sore kami tiba di rumah ayahnya papa, atau biasa kami memanggil beliau Mbah Nang. Rumah sederhana berlantaikan tanah, berdinding kayu ini adalah tempat Mbah Nang tinggal menjalani hari-hari di masa tuanya. Satu hal yang menarik di rumah sederhana ini adalah foto presiden dan wakil presiden yang tertempel di dinding kayu itu masih Pak Soeharto dan Pak Tri Sutrisno. Apa masa itu sangat berkenang untukmu, Mbah?
Orang-orang di desa mama memang sangat ramah, tetapi warga di desa papa jauh lebih ramah. Baru saja kami sampai tetangga-tetangga –yang juga merupakan saudaraku baik saudara jauh atau saudara dekat- berdatangan untuk menyambut kami. Bersalaman hangat dan saling bertanya kabar serta saling mengungkapkan rasa rindu. Seorang anak perempuan kelas 2 SMP yang merupakan anak dari adik perempuan dari istri adik laki-laki papa (nah lho!) telah menyambutku ketika kami baru sampai. Dia memang sangat senang jika aku mudik ke kampung papa karena kami biasa ke masjid bersama, bermain bersama, berkeliling kampung bersama.
Malam yang kami rasakan hari itu begitu dingin. Sangat dingin. Bahkan aku membutuhkan dua kain selimut untuk menghangatkan tubuh. Kami -aku, mama, papa, dan adik perempuan papa- tidur di ruang depan, di atas kasur beralaskan terpal. Malam di desa papa memang sangat dingin. Ah dinginnya membuatku untuk mencari kehangatan dengan memeluk mama erat..
Pagi hari, kami merasakan nikmat yang begitu besar. Dinginnya malam tadi terobati dengan hangatnya sinar mentari, sejuknya udara pagi, dan pemandangan indah hamparan luas di belakang rumah. Semburat sinar mentari yang menyusup di sela-sela pepohonan menambah elok pemandangan pagi itu. Pagi yang begitu indah...
 Oya! Ada satu hal yang ingin aku ceritakan. Hari itu, aku dan saudara perempuanku pergi Sholat berjamaah ke Masjid yang letaknya tak jauh dari rumah. Sebuah Masjid sederhana yang merupakan satu-satunya Masjid di desa tersebut. Masjid itu berdindingkan dan berlantaikan kayu, sehingga ketika para jama’ah melakukan sujud (dari i’tidal) akan terdenga bunyi duk gluduk duk duk –suara kaki-kaki yang membentur kayu- irama yang tak kudengar ketika Sholat di Masjid baik di Tangerang atau di Jogja. Satu hal lagi yang menarik, jama’ah yang datang untuk sholat berjama’ah sebagian besar adalah Mbah-mbah yang telah cukup sepuh dan anak-anak SD yang masih kecil. Bahkan ada seorang Mbah Doe yang sudah tak terlau sehat tetap melaksanakan sholat jama’ah dengan duduk selonjor. Masya Allah.. Pertanyaannya, “Wah anak mudanya kemana ya?”
Oya! Ada lagi. Antara Azan dan Iqamat, biasanya anak-anak SD tadi mengisi dengan nyanyi-nyanyian atau sholawatan. Satu lirik yang mereka nyanyikan, aku ingat lalu kucatat.. begini liriknyaa..
Iman baik amal baik suasana baik Allah ridho
Iman rusak amal rusak suasana rusak Allah murka...
Iman letaknya di dalam hati, hati dipengaruhi empat perkara
Iman letaknya di dalam hati, hati dipengaruhi empat perkara...

Yang pertama pikiran, yang kedua penglihatan
Yang pertama pikiran, yang kedua penglihatan...
Yang ketiga dan keempat, pendengaran dan pembicaraan
Yang ketiga dan keempat, pendengaran dan pembicaraan...

Dengan logat yang medok mereka menyanyikan bergantian. Ah lucunya..

Sahabat, masih banyak sebenarnya yang ingin aku ceritakan dan belum terungkapkan. Kata-kata memang dapat mewakili ungkapan hati yang sulit dibicarakan, tetapi terkadang tak semua rasa di hati dapat kutuliskan dengan kata-kata.
Liburan kali ini telah mengajarkanku akan banyak hal. Sebab disinilah aku melihat matahari dengan lebih nyata, disinilah aku merasakan kehidupan yang lebih nyata..

“Terima kasih Ya Allah, lagi-lagi Kau ajarkan kami dengan cara-Mu untuk selalu bersyukur...”
“Maka Nikmat Rabbmu yang manakah yang kau dustakan”


-Suci Wulandari-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

"Saya tidak tahu apakah ini adalah langkah terakhir saya."