Senin, 19 Mei 2014

Teleskop7 #1



Assalamu’alaikum teman teman :)
Aku ingin berbagi pengalaman nih.. Pengalaman yang sangat luar biasa dan aku sangat beruntung Allah memberikanku kesempatan untuk mengalaminya :) Aku ingin berbagi cerita tentang TELESKOP.. Apa itu Teleskop? Teleskop (The Engineering Leadership Workshop) adalah sebuah training leadership di fakultas teknik UGM. Teleskop merupakan agenda tahunan yang sudah berlangsung sejak tahun 2007. Training leadership ini juga merupakan follow up dari PPSMB Teknik yang telah kami laksanakan dulu ketika kami menjadi mahasiswa baru ^^ 

 Nah, para peserta dari Teleskop tahun ini adalah perwakilan dari BEM, BSO, KM/HM yang ada di fakultas teknik. Oya, selain perwakilan dari lembaga-lembaga tersebut juga ada peserta yang independen lho :3 Di Teleskop7 ini aku adalah perwakilan dari BSO Cendekia Teknika :)
Teleskop tahun ini berlangsung selama 2 hari, yakni tanggal 17-18 Mei. Pada tulisan ini aku akan menceritakan rangkaian acara Teleskop7 hari #1 J Hari pertama ini diawali dengan apel pagi. Apel ini merupakan acara pembukaan resmi Teleskop7. Seusai apel, dilanjutkan dengan sarapan bersama dengan kelompok dan pemandu masing-masing ^^ Oya! Perkenalkan kami dari kelompok 4 dengan ketua Retas, anggota Aulia, Icha, Arsyad, Wawan, Lutfi, Shaki, Dimas, dan aku :D serta pemandu kami Mas Irfan ^^




Acara selanjutnya adalah materi 1 tentang Public Speaking. Materi ini diisi oleh seorang luar biasa yakni Pak Fatan. Beliau adalah seorang inspirator sekaligus ustadz. Ketika beliau mengawali materinya beliau bertanya kepada kami, “Dari kata Public Speaking carilah sebuah kata yang mencirikan Public Speaking itu sendiri!” Beberapa diantara kami menjawab kata “Public” dan “Speak”. Namun, ternyata bukan kata itu yang dimaksud oleh Pak Fatan. Ternyata kata yang dimaksud adalah “Peak” (puncak). Maksudnya, dalam melakukan public speaking kita harus menampilkan yang terbaik ^^ Selanjutnya pak Fatan memberitahukan kami suatu fakta bahwa orang Amerika Serikat sangat takut dengan Public Speaking. Dan tahukah teman-teman mengapa mereka sangat takut dengan Public Speaking? Ternyata mereka takut karena mereka merasa tidak siap dan mereka takut “dinilai” oleh para pendengar ketika mereka berbicara. Jadi, memang untuk berbicara di depan publik (min. 2 orang) membutuhkan sebuah keberanian yang harus terus diasah. Pak Fatan juga menekankan kepada kami bahwa jika ingin menjadi The Great Public Speaker maka kita harus menjadi Good Listener. Tentu kita paham betul bukan bahwa seorang penulis hebat adalah seorang “pelahap buku”? :). Untuk menjadi The Great Public Speaker dibutuhkan bahan-bahan yang kuat dan terbaik. Sebab, bahan-bahan yang terbaik juga akan menghasilkan produk yang terbaik pula ^^ Mari kita belajar menjadi Great Public Speaker :)
Agenda selanjutnya adalah Forum Group Discussion. Pada FGD kali ini ada 4 tema yang diusung, yakni egoisme jurusan, idealisme, kedisiplinan, dan apatisme. Masing-masing group mempresentasikan hasil diskusi mereka tentang salah satu dari keempat tema tersebut. Dan berikut aku mencoba merangkum dari presentasi masing-masing tema :)
Pada tema Egoisme Jurusan yang menjadi pokok bahasan adalah kondisi fakultas teknik sendiri yang terdiri dari 8 jurusan, 10 program studi. Kedepalan jurusan tersebut memiliki keunikan masing-masing yang membedakannya dengan jurusan lain. Namun, keunikan tersebut seharusnya tidak memicu timbulnya chauvinisme jurusan. Justru berbagai keunikan tersebut kita jadikan alat pemersatu menuju “Teknik Satu”. ^^
Tema yang kedua adalah tema yang  sangat menarik, yaitu Idealisme. Mahasiswa memang cukup akrab dengan kata yang satu ini. Sebenarnya apa itu idealisme? Idealisme adalah sebuah keyakinan yang dipegang teguh akan suatu keadaan yang dianggap ideal. Biasanya di dalam pikiran mahasiswa telah tergambarkan kondisi-kondisi ideal yang seharusnya terjadi, baik di kampus, bangsa dan negara, serta hidup ini. Berbicara soal idealisme, bukanlah tentang “common enemy” melainkan “common goal” yakni kesamaan tujuan yang hendak dicapai menuju suatu kondisi ideal yang diharapkan. Idealisme adalah sesuatu yang mudah dibuat, namun sangat sulit untuk mempertahankannya. Terbesitlah sebuah pertanyaan, “Lalu bagaimanakah cara untuk mempertahankan idealisme ini?” Idealisme bukanlah suatu hal yang melekat karena status sebagai mahasiswa, melainkan sebuah view of life, sehingga idealisme ini tidak hanya tertanam dalam pikiran ketika kita menjadi mahasiswa, tetapi berlanjut, kontinu, dan konsisten.
Tema yang ketiga adalah Kedisiplinan. Berbicara disiplin adalah sesuatu yang cukup seru untuk dibicarakan apalagi sebagai mahasiswa yang kesibukannya tidak hanya kuliah, tetapi juga organisasi, penelitian, dan sebagainya. Terdapat dua hal yang sangat penting untuk dapat menjadi pribadi yang disiplin, yang pertama adalah komitmen. Untuk menjadi seorang yang disiplin, komitmen sangatlah dibutuhkan sebagai sesuatu yang selalu dipegang teguh, sebab ketika telah mempunyai komitmen yang kuat maka sesibuk apapun pasti tetap bisa menjadi mahasiswa yang disiplin. Kedua adalah terorganisir. Seorang mahasiswa yang cerdas mengatur waktunya, akan senang untuk mengorganisir jadwalnya menjadi teratur. Apa yang akan dilakukan hari ini, hari ini mempunyai janji dengan siapa, tugas apa yang dikumpulkan hari ini, dan lain sebagainya, semua telah tersusun rapih. Selanjutnya, mengenai ketidakdisiplinan dengan melanggar peraturan kita harus dapat memilih peraturan-peraturan mana yang sejalan dengan tujuan, sebab peraturan adalah sebuah instrumen untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa kita harus mengetahui apa maksud dari setiap peraturan yang dibuat, sesuai kah dengan tujuan kita?
Tema yang terakhir adalah apatisme. Di kampus terdapat beragam mahasiswa, termasuk mahasiswa apatis. Mahasiswa yang apatis dianggap sebagai mahasiswa yang tidak peduli, acuh terhadap berbagai hal yang terjadi di kampus atau bahkan di negara ini. Terdapat beberapa hal yang faktor yang menyebabkan mahasiswa apatis. [1] Faktor internal (diri sendiri/keluarga). [2] Akademik (study oriented). [3] Merasa canggung sebab telah di cap apatis. Poin yang ketiga merupakan masalah yang seharusnya bisa dihilangkan. Jika kita menemukan teman-teman kita yang memang tidak peduli (apatis) maka kita harus merangkulnya, mengajaknya perlahan untuk turut serta aktif, bukannya memberikannya cap sebagai “mahasiswa apatis” sehingga ketika ia ingin berkontribusi ia merasa minder karena cap/labelling yang telah diberikan kepadanya. Sebenarnya apatis timbul karena seorang tersebut telah terjebak di dalam zona nyaman, dan ia tidak mau keluar dari comfort zone tersebut. Orang yang seperti ini, butuh perhatian lebih dan tentunya kita harus peka dan perhatian terhadap teman-teman di sekitar kita. Satu hal yang juga penting terkait apatisme ini, ketika kita melihat teman kita tidak peduli dengan organisasi/ hal yang kita ikuti, maka kita tidak boleh langsung men-cap ia sebagai apatis karena bisa saja ia mempunyai kesibukan dalam hal lain. Ingat ketika kita memaksakan teman kita untuk mengikuti semua yang kita lakukan, maka boleh jadi kita yang egois? Hati-hati ^^
Materi ke-2 di hari pertama Teleskop7 ini adalah tentang Kepemimpinan. Pembicaranya adalah Luthfi Hamzah Husein. Beliau adalah Presiden Mahasiswa UGM tahun... Beliau melontarkan sebuah pertanyaan kepada kami, “Bagaimana leadership sebagai seorang mahasiswa yang menjadi faktor pembeda dengan leadership jaman SMA dulu?” Basis pembeda leadership mahasiswa yang pertama adalah Moralitas. Dalam kepemimpinan sebagai seorang mahasiswa moralitas adalah hal yang dijunjung tinggi. Kedua, intelektualitas. Artinya, setiap hal diidentifikasi dalam segi keilmuan. Beberapa hal lain yang harus selalu diingat terkait leadership sebagai mahasiswa adalah [1] Di pundak mahasiswa terdapat beban tak hanya tentang dirinya tetapi juga tentang bangsa dan negaranya. [2] Menyamakan visi dan bekerja keras untuk mencapainya dengan berbagai peran/keahlian yang dimiliki. Mas Luthfi juga menekankan bahwa setiap leader mempunyai keunikan masing-masing sehingga yang menjadi pokok perhatian adalah bukannya perbedaan strategi melainkan persamaan visi.
Seusai melaksanakan ibadah sholat Dzuhur, Mas Rizky, Ketua KMT UGM, menyampaikan tausyiah terkait organisasi. Beliau menjelaskan organisasi yang kuat dan yang bertahan lama adalah [1] Organisasi yang melakukan pergerakan (amal) tidak hanya berkata yang menjadi sebuah wacana belaka. [2] Mempunyai landasan gerak yang jelas. [3] Memiliki tata aturan yang rapih dan kokoh. [4] Memiliki kader-kader yang kuat yakni yang memiliki cinta dengan lembaganya.
Materi yang terakhir pada hari pertama ini bertema Inikah Jalanku? Teman-teman tahu siapa pembicara pada materi ini? Dua orang hebat. Sosok yang menjadi inspirasi bagiku, yakni Ahmad Ataka dan Yanuar Rizki Pahlevi. Siapa yang tidak mengenal mas Ataka? Presiden Cendekia Teknika 2012. Seorang yang mempunyai sederet prestasi dari SMA hingga menjadi mahasiswa, mulai dari olimpiade fisika, ketia tim roket UGM, serta karya-karya hebat yang lahir darinya. Siapa sangka, sosok hebat seperti Mas Ataka yang mempunyai segudang prestasi akademik itu ternyata juga mempunyai usaha sukses Kaos Pintar dan Atnic. Siapa pula yang tidak mengenal Mas Yanuar, seorang hebat Ketua BEM FT UGM tahun..., dan Presiden Mahasiswa UGM tahun 2013. Yang orasinya dapat membuat bergetar dan begitu mempengaruhi ribuan mahasiswa lainnya. Aku sangat mengucapkan terima kasih kepada panitia Teleskop7 yang telah mendatangkan orang-orang hebat untuk mengisi materi ^^
Begitu banyak pelajaran yang dapat diambil dari materi yang diberikan oelh sosok-sosok hebat ini. Pertama, kita harus memberikan kontribusi kepada bangsa ini sesuai dengan keahlian dan bidang masing-masing. Oleh karena itu, menemukan passion diri adalah hal yang sangat penting. Memang dalam menemukannya bukanlah sesuatu yang mudah, butuh perenungan dan penelusuran diri yang tak sebentar. Namun, passion ini harus segera kita tentukan sebab ini akan menentukan langkah kita selanjutnya. Mas Yanuar juge mengingatkan kita bahwa “Pemuda bukanlah seorang yang berkata ini bapak saya. Akan tetapi, seorang pemuda adalah seorang yang berkata inilah saya”. Artinya, kehebatan seorang pemuda bukanlah dilihat dari siapa orang tuanya, apa universitasnya, apa lembaganya, apa komunitasnya, tetapi kehebatan seorang pemuda dilihat dari siapa dirinya, ya siapa dirinya....
          Marilah mulai dari diri sendiri,
          Mulai dari hal yang kecil,
          Dan mulai dari sekarang....
          #Teleskop7
          Sekian teman-teman cerita pengalaman Teleskop7 hari pertama. Banyak pelajaran yang dapat dipetik pada hari ini. Semoga di dalam setiap jejak langkah kita meninggalkan manfaat dan kebaikan. Semoga Allah memudahkan :)
Wassalamu’alaikum ^^
17 Mei 2014
Suci Wulandari

2 komentar:

  1. waaaaah, keren sekalii :D
    semoga ilmunya mengalir menjadi manfaat ya, suci. Semangat berbagi dan menginspirasi :)

    BalasHapus
  2. Aamiin :) Minta doanya terus ya mbaak :)

    BalasHapus

"Saya tidak tahu apakah ini adalah langkah terakhir saya."